Dir. Pamong Institute: Tiga Catatan Mengapa Khilafah Utsmani Layak Dikagumi

Pamong Institute – Menanggapi kekaguman Presiden Republik Indoneia (RI) Prabowo Subianto terhadap kekuasaan Ottoman atau Khilafah Utsmaniyah dalam pidato pembukaan Tanwir dan resepsi Milad ke-112 Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu (4/12/2024), Direktur Pamong Institute turut memberikan tiga catatan mengapa Khilafah Utsmani layak dikagumi.

“Saya mencatat ada tiga hal yang sangat positif (pada Khilafah Utsmani). Pertama, mampu menjalankan fungsi sebuah negara adidaya atau adikuasa, yaitu melindungi segenap masyarakat dan bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya. Tiidak membuat kezaliman,” tuturnya dalam Bincang Politik: Presiden Prabowo Mengagumi Khilafah Utsmani, Bagaimana dengan Kita? Jum’at (13/12/2024) di kanal YouTube Bincang Bersama Sahabat Wahyu.

Ia mengemukakan bahwa misi melindungi atau menjaga warga masyarakat dan bahkan warga dunia itu benar-benar dilakukan Khilafah Utsmani.

“Menjadi negara adikuasa lebih dari 600 tahun, menorehkan catatan sejarah di mana tidak ada terjadi pembantaian atau genosida,” kagumnya.

Berbeda dengan negara adikuasa Amerika saat ini, Wahyudi membandingkan, belum genap berkuasa 100 tahun saja sejak pasca perang dunia kedua, namun sudah terlalu nampak keburukan-keburukannya.
“Hari ini terjadi genosida di Palestina. Belum lagi di negara-negara lain yang terjadi ketidak adilan, kekacauan-kekacaun dan kerusakan alam yang begitu parah,” bandingnya.

Yang kedua, Wahyudi menyebutkan, Khilafah Utsmani telah mampu meletakkan keadilan karena menerapkan hukum syariat Islam yang adil. Dan kemudian menegakkannya dengan cara membuat kepastian hukum untuk menciptakan keadilan itu.

“Itu yang tidak mungkin diterapkan oleh negara-negara sekuler atau negara adidaya hari ini (yang memisahkan aturan agama dari kehidupan), karena menerapkan hukum yang berubah-ubah tergantung dibuat oleh berbagai kepentingan manusia, termasuk kepentingan (politik dan bisnis) para oligarki,” ulasnya.

Ketiga, lanjutnya, secara konsisten bahwa kehilafahan Utsmani (yang berpusat di Istanbul, Turki) lebih banyak melayani daripada memunguti atau membebani rakyatnya.

“Tidak banyak memungut pajak atau menghisap rakyatnya dengan berbagai beban seperti di zaman pemerintahan negara-negara hari ini, termasuk adikuasa Amerika sekalipun. Hampir semua rakyat dipajaki atau dibebani dengan berbagai pungutan,” sesalnya.

Wahyudi lantas menyatakan,
kalau Presiden RI Prabowo saja mengagumi, maka masyarakat dan segenap bangsa ini tidak layak untuk tidak mengaguminya.

“Dan saya katakan, kalau kita memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih, maka dengan mudah kita akan dapat menemukan fakta-fakta yang mengagumkan dari masa kekhilafahan Utsmani. Cukup memenuhi dua syarat itu, yaitu gunakanlah akal yang waras dan bersihkanlah hati kita sehingga tidak membenci sistem Khilafah dan tidak mengkriminalisasinya,” pungkasnya. [] Harli

Exit mobile version