Pamong Institute – Selain lemahnya kemampuan warga atau kemiskinan, persoalan tunggakan pembayaran sewa rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) yang membengkak juga diduga akibat sistem pembayaran yang berbunga layaknya pinjaman online (pinjol).
“Kalau kita telat bayar, itu bunga tetap berjalan, seperti lagi pinjol,” kata Dina (33), Ketua RT 12 RW 017, Rusunawa Rawa Bebek, Cakung, Jakarta Timur, dilansir dari Kompas.com, Jumat (7/2/2025).
Dina menjelaskan, bunga pembayaran sewa terus berjalan sehingga memberatkan para penghuni rusun. “Misalnya, saya bayar bulan ini, tetapi bunga pada Januari tetap jalan ditambah sama bunga Februari,” jelasnya.
Dina mengatakan, banyak warga di Rusunawa Rawa Bebek yang menunggak pembayaran sewa akibat bunga tersebut. “Lebih banyak warga nunggak daripada yang tidak,” tuturnya.
Warga Rusunawa Rawa Bebek lainnya bernama Rohana (42) mengaku menunggak pembayaran sewa rusun karena tidak memiliki uang untuk membayarnya. “Saya enggak mikirin biaya sewa dan tunggakan karena uang dipakai buat kebutuhan utama sehari-hari dulu,” ucap Rohana, Jumat (7/2/2025).
Seperti Dina, Rohana menilai bahwa tinggal di Rusun Rawa Bebek bagaikan melakukan pinjol. “Tadinya saya enggak punya utang, tapi pas tinggal di sini jadi banyak utang dan ada bunganya,” ucapnya.
Rohana mengaku mengalihkan uang tunggakan sewa tinggal di Rusunawa Rawa Bebek untuk kebutuhan lain yang lebih utama, yaitu makan.
Sementara itu, di tempat terpisah, Rohiah (57), bukan nama sebenarnya, salah satu penghuni Rusunawa Marunda, Jakarta Utara, juga terbebani dengan bunga biaya sewa yang belum terbayar.
“Masalah tunggakan, uang berjalan itu. Pokoknya riba, ada bunganya. Bunganya itu, kalau kami belum bayar, bunganya bertambah, berjalan,” ungkap Rohiah kepada Kompas.com, Sabtu (8/2/2025).
Rohiah mengaku tidak mampu membayar cicilan bulanan untuk unitnya di Rusunawa Marunda selama tujuh tahun terakhir. Total tunggakannya kini mencapai Rp 15 juta, termasuk bunga.
Kesulitan membayar cicilan ini berawal dari suami Rohiyah yang menderita diabetes hingga mengalami kelumpuhan hanya terbaring di tempat tidur dan tidak bisa lagi bekerja.
“Sekarang jadi enggak bayar karena suami sakit. Sakitnya parah, sudah enggak bisa usaha. Dari pertama datang ke sini (Rusunawa Marunda), dia memang sudah sakit diabetes, tapi waktu itu belum lumpuh,” ujar Rohiah.
Rohiah adalah salah satu warga yang direlokasi dari Kampung Walang, Jalan Lodan Raya, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, pada 2017. Sebelum pindah ke Rusunawa Marunda, ia bersama keluarganya tinggal di kolong jembatan.
Sebelumnya, Rohiah dan suaminya bekerja sebagai pedagang di dekat Museum Fatahillah, Kota Tua, Pinangsia, Tamansari, Jakarta Barat. Namun, setelah direlokasi ke Marunda, mereka terpaksa berhenti berjualan. Jarak yang jauh dari tempat usaha lama menjadi kendala utama, ditambah dengan biaya transportasi yang tidak sebanding dengan penghasilan.
“Saya ke sini karena dijanjikan pemerintah akan dikasih peluang usaha, anak kami bakal dapat pekerjaan, atau suami kami bisa kerja lagi. Tapi, ternyata semuanya nol, enggak ada,” kata Rohiah.
Kini, satu-satunya sumber pemasukan Rohiah berasal dari anaknya yang bekerja sebagai kernet. Terkadang, anak semata wayangnya itu mendapat pekerjaan tambahan, tetapi penghasilannya tidak menentu. “Kalau lagi ada kerjaan, saya dikasih duit Rp 50.000. Itu buat dua atau tiga hari, tergantung dapatnya anak. Uang itu buat makan saya dan suami,” ujarnya.
Selain mengurus suaminya, Rohiah juga mengasuh tiga cucunya. Salah satu nya sebenarnya tak punya hubungan darah dengan Rohiah, namun dirawat Rohiah setelah orangtuanya meninggal.
“Di sini ada enam orang, termasuk suami saya, anak saya, dan cucu saya. Saya urus sendiri,” tambahnya. [] Harli
