Pamong Institute – Mengomentari isu reshuffle Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo Subianto, Direktur Pamong Institute Wahyudi al-Maroky menilai kalau struktur gemuknya tidak dirampingkan, maka masih tetap inefisiensi (pemborosan).
“Kalau hanya reshuffle menteri tetapi strukturnya tidak dirampingkan, itu yang saya bilang masih tetap inefisiensi,” ujarnya dalam program Bincang Politik: Reshuflle Kabinet Tanpa Dirampingkan Cuma ‘omon-omon’ Efisiensi, di kanal YouTube Sahabat Wahyu, Kamis (13/2/2025).
Kalau masih gemuk seperti itu, menurut Wahyudi, berarti Presiden Prabowo tidak serius untuk melakukan efisiensi di tubuh pemerintahannya sendiri.
“Bicara tentang efisiensi, itu hanya ‘omon-omon’ saja,” tambahnya.
Ia pun memandang, kabinet Prabowo adalah kabinet yang sangat gemuk atau obesitas.
“Tentu sangat mahal biayanya dan sangat banyak masalahnya. Jadi kalau kita pertahankan terus, tentu sampai di ujung pemerintahan nanti semua biaya dan energi hanya habis untuk biaya operasional kementerian yang sangat besar itu,” jelasnya.
Sebab Wahyudi mengungkapkan, situasi dan kondisinya jauh dari tingkat rasionalitas, bagaimana keuangan negara yang begitu sulit, utangnya banyak, sumber-sumber pendapatannya terbatas, akan tetapi digunakan untuk biaya operasional para menteri yang begitu banyak.
“Butuh kantor, butuh staf, butuh kendaraan dinas, butuh operasional yang begitu besar. Itu semua harus dibiayai oleh uang rakyat. Kapan uang rakyat itu dinikmati oleh rakyat kalau hanya untuk membiayai para menteri dan wakil menteri yang begitu banyak,” tanyanya retoris.
Sebelumnya, Prabowo memerintahkan efisiensi atau penghematan belanja APBN 2025 senilai Rp 306,7 triliun.
Namun, sebelum memerintahkan efisiensi, ia justru membentuk banyak kementerian dan lembaga baru di Kabinet Merah Putih. Total ada 112 orang yang masuk jajaran Kabinet Merah Putih, terdiri dari 48 menteri, 56 wakil menteri, 5 pejabat setingkat menteri, serta panglima TNI, kapolri, dan sekretaris kabinet. [] Harli
