Pamong Institute – Staf Advokasi Urban Poor Concortium (UPC) Nafisa mengungkapkan, penggusuran dan pemindahan pemukiman warga kolong tol Rawa Bebek dan Petak Asem, Jakarta Utara, ke Rusunawa (rumah susun sederhana sewa) yang dilakukan oleh Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah serta Kementerian Perumahan dan Kawasan diakui malah akan mempersulit kehidupan warga.

“Pemindahan warga ke Rusunawa diakui akan mempersulit rute mereka untuk mencari barang bekas, karena ketiadaan fasilitas di Rusunawa untuk menampung dan menyortir sampah, serta tempat untuk parkir gerobak sebagai alat untuk bekerja,” ungkap Nafisa dalam keterangannya kepada wartawan pada Minggu (29/12/2024).

Selain itu, alasan seperti harga sewa Rusunawa yang dianggap terlampau mahal membuat mereka ingin tetap bertahan hidup di bawah kolong tol.

Berdasarkan data yang didapat UPC, Nafisa menyebut harga sewa Rusunawa adalah Rp 550 ribu per bulan. Itu belum termasuk biaya air, listrik, keamanan dan perawatan. Jika ditotal, pengeluaran untuk tinggal di Rusunawa sekitar Rp 900 ribu per bulan.

“Ini tentu memiskinkan warga dan membuat warga semakin sulit. Kesulitan hidup mereka semakin berlapis,” ujar Nafisa.

Beberapa alasan lain seperti desain pembangunan Rusunawa yang cenderung terisolasi dari pusat-pusat kegiatan perekonomian, kata Nafisa, juga membuat warga menempuh jarak dan biaya lebih menuju lokasi-lokasi tempat mereka bekerja sebelumnya.

Paradigma pembangunan Rusunawa, tambah Nafisa, juga seringkali mengasumsikan penghuninya memiliki pendapatan tetap dan memiliki pekerjaan formal, padahal banyak dari mereka adalah pekerja pada sektor informal dan bisnis skala kecil untuk memenuhi kebutuhan harian.

Rusunawa, kata dia, juga biasanya tidak menyediakan lokasi untuk membuka warung rumahan atau semacamnya. Jenis-jenis usaha kecil lainnya juga sebagian besar dilarang karena tidak sesuai dengan citra Rusunawa yang diinginkan oleh pemerintah.

“Pada saat bersamaan, para penghuni Rusunawa harus tetap membayar biaya sewa setiap bulan dengan ketidakpastian ekonomi yang menopang kehidupan mereka. Alhasil warga menghidupi diri dengan uang kredit, lalu memiliki tunggakan utang sewa sehingga pengelola berpotensi untuk mengusirnya setiap saat,” pungkasnya memprediksikan. [] Harli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here