Pamong Institute – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah memberi tahu rencana pasokan senjata senilai US$8 miliar (setara Rp129,5 triliun) kepada Israel untuk membantu agresi ke wilayah Gaza.
Seorang sumber yang mengetahui hal tersebut mengungkap bahwa rencana penjualan senjata itu untuk mendukung rencana jangka panjang Israel.
“Departemen Pertahanan secara informal telah memberi tahu Kongres mengenai rencana penjualan amunisi senilai US$8 miliar untuk mendukung keamanan jangka panjang Israel dengan memasok kembali persediaan amunisi penting dan kemampuan pertahanan udara,” ujar sumber tersebut, Sabtu (4/1/2025), dikutip dari AFP.
Melansir CNN, Minggu (5/1/2025), penjualan yang diusulkan mencakup rudal AIM-120C-8 AMRAAM yang akan digunakan untuk melawan ancaman dari udara, termasuk pesawat tak berawak. Ini juga mencakup peluru artileri; rudal Hellfire AGM-114; Bom Diameter Kecil (SDB); perangkat ekor JDAM; hulu ledak seberat 500 pon; dan sekering bom FMU-152A/B.
Israel Tak Bisa Bertahan Tanpa Dukungan AS
Sementara itu, Profesor Hubungan Internasional dan Direktur Pusat Keamanan Nasional Universitas Haifa, Israel, Benjamin Miller pernah
mengakui bahwa Israel tak akan bisa bertahan tanpa dukungan ekonomi dan diplomatik AS.
Berbicara kepada surat kabar Israel Globes, pada Maret 2024 lalu, Miller yang dikabarkan sebagai seorang ahli dalam tatanan dunia, perang dan perdamaian menjelaskan, “Israel tidak bisa bekerja sendiri. Ia membutuhkan bantuan keuangan dan juga dukungan di arena internasional dari beberapa negara besar.”
AS memberikan banyak dukungan kepada Israel dalam hal bantuan luar negeri dan juga di arena diplomatic. Menurut Miller, tanpa bantuan itu, Israel akan sulit melakukan misinya. Pertama, ketika itu, ada bantuan pertahanan, yang pada masa normal berjumlah 3,8 miliar dolar AS per tahun, sekitar 14 miliar dolar AS (anggaran pertahanan Israel, tanpa bantuan AS, adalah 65 miliar dolar AS per tahun pada masa normal).
Terlepas dari dua kapal induk yang pernah dikirim AS lanjutnya, AS juga sering memasok peluru artileri dan tank, serta bom untuk pesawat terbang.
“Jika AS menghentikan bantuan di bidang persenjataan, maka itu adalah masalah besar bagi Israel,” kata Miller.
Yang tidak kalah penting dari bantuan yang diberikan AS kepada Israel, Miller menekankan, adalah pemanfaatan hak veto yang dimilikinya di Dewan Keamanan PBB. Berkat AS, beberapa resolusi mengenai gencatan senjata di Gaza telah digagalkan hanya dalam beberapa bulan terakhir. “Sejak serangan Israel ke Palestina 7 Oktober 2023, AS telah menggunakan hak veto sebanyak tiga kali untuk kepentingan kami (Israel),” ungkap Miller menambahkan.
Israel dan AS Sama Buruknya
Sedangkan, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Abbas dalam tulisannya yang berjudul “Israel dan Amerika Serikat Sama Saja Buruk dan Busuknya” pada rubrik opini tokoh, Tinta Media (16/4/2024), juga pernah menyatakan bahwa sudah saatnya dunia memberi pelajaran kepada Israel agar negara zionis tersebut berhenti melakukan praktik penjajahan dan penindasan terhadap rakyat Palestina.
“Sikap keras dan tegas dunia terhadap Israel dan Amerika ini penting dilakukan karena kita sudah bosan melihat sikap dan tindakan kemunafikan yang diterapkan oleh Amerika selama ini dalam menghadapi
berbagai persoalan yang ada di dunia terutama menyangkut masalah Palestina,” tulisnya.
Untuk itu, Anwar menegaskan, mungkin sudah waktunya bagi dunia untuk menendang Negara Paman Sam tersebut dari takhtanya sebagai satu-satunya polisi dunia, karena akibat dari sikap dan tindakan Israel dan AS inilah berbagai ketidakadilan dan kezaliman telah terjadi dimana-mana.
“Dan kita tentu saja tidak mau hal itu berketerusan, tapi harus bisa
dihentikan secepatnya karena Israel dan AS dalam perspektif HAM
dan Perikeadilan sama saja buruk dan busuknya,” catat Anwar. [] Harli





















