Pamong Institute – Banjir yang terjadi sejak awal Maret 2025 di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), menurut Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) merupakan bencana akibat dari akumulasi krisis ekologis.
Hal itu dinyatakan oleh Manajer Kampanye Infrastruktur dan Tata Ruang Walhi Eksekutif Nasional Dwi Sawung, melalui keterangan tertulis, Sabtu, (8/3/2025).
“Krisis itu disebabkan oleh ketidakadilan dan gagalnya sistem pengelolaan sumber daya alam yang telah mengakibatkan hancurnya lingkungan, baik permukiman maupun ekosistem yang ada,” ungkap Dwi.
Dilansir dari tempo.co, faktor utama yang memperparah bencana ini adalah eksploitasi lingkungan yang tidak terkendali. Hutan di kawasan Puncak, Bogor, dan sekitarnya, yang seharusnya menjadi daerah resapan air, telah banyak berubah menjadi permukiman, vila, serta destinasi wisata.
Dalam lima tahun terakhir, Walhi Jawa Barat mencatat tingkat kerusakan lingkungan di kawasan ini meningkat dari 45 persen menjadi 65 persen. Alih fungsi lahan ini sering kali terjadi mengesampingkan daya dukung dan daya tampung lingkungan, serta tanpa memperhatikan analisis dampak lingkungan (Amdal) di kawasan rawan bencana.
Walhi Jawa Barat menyoroti bahwa banyak izin usaha properti dan wisata dikeluarkan tanpa pengawasan ketat. Selain itu, aktivitas pertambangan pasir dan batu ilegal semakin memperburuk kondisi tanah, membuatnya lebih rentan terhadap erosi dan longsor.
Kawasan Bogor (Puncak, Jonggol, Cikeas, Sentul, dan Hambalang) yang seharusnya menjadi daerah resapan air, ungkapnya, telah beralih fungsi, yang membuat limpahan air banjir terus mengalir hingga membuat daerah Bekasi sampai Jakarta pun terdampak banjir. hal itu terjadi karena masifnya pembangunan yang tidak sesuai dengan tata ruang.
Dari citra satelit berkala, yang dapat diakses publik secara luas, terlihat perubahan tutupan lahan di bagian selatan Jabodetabek yang mengakibatkan banjir kali ini menenggelamkan bagian selatan Jabodetabek, padahal curah hujan harian tahun 2025 kali ini belum sebesar curah hujan harian banjir besar tahun 2020.
Dari citra satelit juga terlihat ada pertambangan karst/batuan yang cukup luas di Kabupaten Bogor yang aliran sungainya mengarah ke DAS Kali Bekasi. Bukaan lahan dari pertambangan ini sangat jelas terlihat dalam citra satelit berkala.
Dwi lantas menegaskan bahwa banjir besar yang terjadi di Jabodetabek bukan hanya disebabkan karena krisis iklim yang terjadi, tetapi lebih karena perubahan tata ruang baik di hulu maupun di hilir daerah aliran sungai (DAS) oleh kepentingan-kepentingan komersial jangka pendek tanpa memperimbangkan keselamatan dan lingkungan dalam jangka panjang.
“Alih fungsi ruang tersebut harus segera dihentikan bahkan harus dikembalikan ke kondisi semula apabila kita tidak ingin mendapatkan bencana yang sama bahkan lebih parah di masa depan,” tekannya memperingatkan. [] Harli





















