Pamong Institute – Dua da’i kondang, Ustadz Das’ad Latif dan Ustadz Abdul Somad (UAS) turut merespons polemik kasus kaveling dan pagar laut yang belakangan terus ramai diperbincangkan publik.
Mengomentari kasus itu, keduanya menyebut nama Fir’aun, Raja Mesir yang sangat kejam pada era Nabi Musa a.s. yang tenggelam mati bersama bala tentaranya di Laut Merah karena dibinasakan Allah Swt.
Da’i kondang Ustadz Das’ad Latif, dalam postingannya, dengan latar merah dan tulisan mencolok menyampaikan sindirannya yang tajam namun jenaka.
“Fir’aun itu sangat kejam, tapi dia nggak sampai mengkavling Laut Merah,” tulis Ustadz Das’ad di Instagram pribadinya @dasadlatif1212 (24/1/2025). Ungkapan ini dilengkapi dengan emotikon wajah lucu yang semakin menegaskan gaya khasnya yang lugas namun humoris.
Sementara itu, di waktu berbeda, UAS juga memberikan singgungan yang senada. Da’i kelahiran Silo Lama itu membandingkan kisah Fir’aun dengan fenomena pemagaran laut.
“Fir’aun Mesir itu digambarkan sangat gagah perkasa, didukung para tukang sihir, menyembelih anak-anak laki-laki,” ujar UAS di Instagram @ustadzabdulsomad_official, Selasa (28/1/2025).
Ia mengatakan, meskipun Fir’aun didukung para tukang sihir yang terbilang hebat pada masanya, justru ditenggelamkan di Laut Merah.
Ia pun berkelakar, Fir’aun pasti akan terkejut jika mendengar bahwa di era modern ini, ada pihak yang mampu memagari laut sepanjang 30 km dengan bantuan teknologi dan kemampuan yang masih misterius.
“Betapa kagetnya Fir’aun mendengar berita dari Konoha bahwa ada yang lebih hebat dari dirinya,” canda dan sindir UAS atas kejahatan pemagaran laut..
Secara gamblang, UAS lanjut menyentil isu pemagaran laut dengan dugaan penggunaan cara-cara tertentu yang belum terungkap sepenuhnya. “Itulah saatnya Fir’aun kehilangan harga diri,” tandasnya.
Sekilas Kisah Fir’aun
Disebutkan dalam Kitab Suci umat Islam, Al-Quran surat Yunus ayat 75-92 dan dijelaskan oleh sejumlah kitab tafsir, Fir’aun adalah penguasa Mesir yang sangat zalim dan sombong.
Di antara kesombongannya tampak saat diseru Nabi Musa dan Harun a.s. untuk menerima tanda-tanda kebesaran Allah, mengakui risalah keduanya, sehingga mau menuhankan Allah dan beribadah kepada-Nya.
Alih-alih menerima risalah Nabi Musa dan Nabi Harun serta mengesakan Allah, Fir’aun dan pembesar kaumnya malah menuduh risalah keduanya sebagai sihir. Malahan Firaun sempat mendatangkan para penyihir untuk menantang Musa dan Harun dengan sihir-sihir andalan mereka.
Disebutkan pula, Fir’aun merupakan penguasa tiran dan sewenang-wenang. Sehingga tidak ada yang berani beriman kepada risalah yang dibawa Nabi Musa selain turunan kaumnya. Itu pun disertai ketakutan terhadap keganasan Fir’aun dan para pengikutnya.
Fir’aun juga merupakan penguasa yang mementingkan perhiasan dan kekayaan dunia. Namun, akibat kekayaan itu, Fir’aun dan para pengikutnya malah menyesatkan masyarakatnya dari jalan Allah. Itu pula yang menyebabkan mereka binasa dan terkunci hatinya.
Puncak kesombongan Fir’aun juga dicatat Al-Quran sebagai penguasa tangan besi dan manusia yang pernah mengaku tuhan.
Pembelajaran
Di penghujung hidupnya, Fir’aun pun bernasib tragis. Ia tenggelam bersama bala tentara kebanggaannya di Laut Merah saat mengejar Nabi Musa dan kaum Bani Israil. Menjelang detik-detik kematiannya, terlambat dia baru berserah diri dan mengakui Tuhan yang diimani oleh Bani Israil ketika itu.
Meski tenggelam di tengah lautan, jasad Fir’aun diyakini masih utuh sampai sekarang yang bisa dijadikan sebagai pembelajaran bagi kehidupan manusia sesudahnya. Kebenaran keberadaannya pun telah terbukti secara ilmiah lewat penelitian-penelitian yang dilakukan.
Jasad Fira’un yang telah ditemukan kini bisa dilihat langsung di The National Museum of Egyptian Civilisation (Museum Nasional Peradaban Mesir) di kawasan Fustat, Kairo, Mesir. [] Harli





















