Pamong Institute – Viralnya tagar kabur aja dulu (dari Indonesia) setidaknya menunjukkan tiga indikasi penting kondisi sosial dan ekonomi di tanah air.
Hal itu diungkapkan oleh Direktur Pamong Institute Wahyudi al-Maroky dalam program Bincang Persoalan Umat: Tagar Kabur Aja Dulu Bukti Tagar Indonesia Gelap (#kaburajadulu bukti #indonesiagelap), di kanal YouTube Bincang Bersama Sahabat Wahyu, Minggu (23/2/2025).
Pertama Wahyudi mengemukakan, tagar tersebut menunjukkan adanya kesenjangan signifikan dalam tingkat kesejahteraan di Indonesia.
“Bukan hanya generasi muda, generasi tua juga hampir semua merasakan bagaimana tingkat kesejahteraan kita jauhlah kira-kira gitu,” ujarnya.
Bahkan, ia menambahkan, banyak ASN (Aparatur Sipil Negara) yang menyimpan Surat Keputusan Pegawai Negeri Sipil (SK PNS) mereka di bank untuk jaminan kredit, karena pendapatan mereka tidak mencukupi untuk membeli rumah, kendaraan, atau membiayai pendidikan.
Kedua, lanjut Wahyudi, adalah buruknya jaminan keamanan dan kenyamanan dalam berkarir.
“Untuk bisa bekerja mendapatkan posisi yang bagus di Indonesia seringkali harus senggol-senggolan atau bahkan mungkin sogok-sogokan. Bahkan, perlu ada orang dalam atau refrensi pejabat,” bebernya.
Ketiga, adalah lemahnya regulasi dan kepastian hukum di Indonesia. Wahyudi menyebutkan bahwa hukum di Indonesia cenderung tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.
“Tajam kepada lawan-lawan politik, tumpul kepada kawan-kawan politik. Tajam kepada rakyat kecil dan tumpul kepada para pejabat,” jelasnya.
Menurut Wahyudi, generasi muda yang tidak memiliki relasi kekuasaan atau bekingan pejabat akan dihukum dengan tegas jika melakukan pelanggaran, sementara mereka yang memiliki relasi atau kekuasaan bisa selamat dari hukuman.
Melihat kondisi tersebut, Wahyudi menegaskan bahwa fenomena viralnya tagar kabur aja dulu mencerminkan perasaan sebagian besar generasi muda yang merasa bahwa Indonesia kini “gelap”, sehingga mereka merasa harus “kabur aja dulu” untuk mencari harapan di luar negeri.
Diketahui, trend tagar kabur aja dulu belakangan viral di media sosial, sebagai bentuk kekecewaan dan sindiran anak muda Indonesia terhadap kondisi ekonomi, sosial, dan keadilan di dalam negeri. Anak-anak muda banyak yang merasa tidak ada yang dapat membantu kehidupannya kecuali diri mereka sendiri. [] Harli





















