Pamong Institute – Berdasarkan ramalan dari Goldman Sachs, sebuah perusahaan bank investasi dan jasa keuangan multinasional asal Amerika yang berkantor pusat di New York City, Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto menanggapi narasi “Indonesia Gelap” dengan menegaskan pandangannya.

“Yang melihat Indonesia gelap itu siapa?,” tepis Prabowo ketika menyampaikan sambutan dalam acara Penutupan Kongres VI Partai Demokrat, di Jakarta, Selasa (25/2/2025).

Prabowo kemudian merujuk pada prediksi ekonomi dan statistik Goldman Sachs yang menyebutkan posisi Indonesia di masa depan.

“Prediksi ekonomi dan statistik. Saudara-saudara! mereka mengatakan kita ini akan menjadi ekonomi…. Nomor satu akan jadi Tiongkok (China) menyalip Amerika, nomor dua Amerika, nomor tiga India. Ini Goldman Sachs, katanya China akan nomor 1 di tahun 2050, India nomor 3, Indonesia nomor 4. 2050 itu berarti 25 tahun yang akan datang, Insya Allah saya umurnya 98,” jelasnya.

Menurut Prabowo, jika prediksi atau ramalan tersebut terbukti, hal ini akan menjadi pencapaian luar biasa bagi Indonesia, yang bisa mengungguli negara-negara besar lainnya.

“Kan keren Indonesia di atas Jerman, di atas Jepang, di atas Inggris, di atas Perancis. Kok Indonesia gelap!” ujar Prabowo.

Sebelumnya, gelombang demonstrasi yang melibatkan mahasiswa hingga sejumlah organisasi masyarakat sipil bertajuk “Indonesia Gelap” terjadi di sejumlah daerah termasuk di Jakarta sejak Senin (17/2/2025) hingga Jumat (21/2/2025).

Peneliti Senior dari Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli menyebutkan, munculnya narasi Indonesia Gelap hingga tagar #kaburajadulu merupakan bentuk kekecewaan masyarakat atas kondisi yang terjadi di Indonesia.

Menurut Lili, masyarakat menaruh harapan pada presiden-wakil presiden yang terpilih di Pilpres 2024. Namun yang terjadi sekarang di luar harapan masyarakat.

“Mereka semula menaruh harapan yang tinggi bahwa pasca pemilu nanti, pemimpin dan para elit memberikan harapan baru, seperti tentang lapangan pekerjaan, naiknya penghasilan, daya beli meningkat, dan sejumlah harapan lain yang diidam-idamkan kalangan muda,” kata Lili dilansir dari CNNIndonesia.com, Selasa (18/2).

“Harapan itu ternyata tinggal harapan yang kemudian muncul kekecewaan. Bentuknya seperti demo dan tagar #kaburajadulu,” imbuhnya.

Sedangkan, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menilai gelombang protes (demo) terjadi lantaran masyarakat keberatan atas ragam kebijakan kontroversial Prabowo.

“Tentu, dan sepertinya Prabowo mengikuti benar pola kekuasaan (Presiden ke-7) Jokowi, abai terhadap aspirasi publik,” kata Dedi kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (22/2).

Ia pun mengingatkan bahwa Prabowo membutuhkan dukungan masyarakat dalam memimpin Indonesia dan menjalankan berbagai kebijakan.

“Pemerintah memerlukan dukungan publik, ada baiknya mendengarkan publik, dan mengevaluasi kebijakan,” ujar Dedi memungkasi. [] Harli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here