Pamong Institute – Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi mengungkapkan, tren kredit macet yang terjadi di industri pinjaman online (pinjol) sudah diprediksi.

“Memang kalau kredit macet sejak awal sudah diprediksi,” ungkap Heru, dikutip dari Bisnis.com, Rabu (26/3/2025).

Menurutnya, hal itu terjadi karena pinjaman daring ini tidak ada filter, semua orang boleh pinjam apalagi digunakan untuk hal-hal konsumtif.

Padahal, kata Heru, kalau semua orang bisa pinjam, harus dipikirkan bagaimana pengembaliannya.

“Anak-anak yang sekolah, SMA, kuliah yang belum dapat pendapatan kan tentu hanya mendapatkan uang, dapat pinjaman dan sulit mengembalikan,” ujarnya.

Begitu juga dengan pinjaman yang menyasar pada peminjam berusia di atas 54 tahun, secara data meskipun nominalnya lebih kecil dari kredit macet peminjam usia 19-34 tahun, kredit macet dari peminjam dengan usia di atas 54 tahun merupakan sektor yang tumbuh paling tinggi, yakni tumbuh 104% YoY menjadi Rp94,87 miliar.

“Termasuk usia di atas 54 tahun, itu kan usia-usia pensiun. Kalau dia dapat pensiun masih ada harapan untuk melunasi pinjaman, tapi kalau tidak kan agak susah,” sesalnya.

Heru menambahkan, termasuk maraknya kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepanjang 2024 lalu, juga turut memberi dampak pada industri P2P lending.

Dengan hilangnya penghasilan masyarakat, lanjutnya, pembiayaan alternatif seperti pinjol ini menjadi salah satu opsi yang dilihat masyarakat. Dengan begitu maka penyaluran pinjol berpotensi naik, namun akan membawa risiko kredit macet yang membengkak.

Dilaporkan, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding pinjaman macet P2P lending lebih dari 90 hari per Desember 2024 tercatat sebesar Rp2,01 triliun, meningkat 14,8% year on year (YoY).

Bila data kredit macet P2P lending per Desember 2024 itu dibedah, pinjaman tersebut sebesar 75% atau Rp1,50 triliun merupakan pinjaman perseorangan. Angka tersebut tumbuh 15% YoY. Sementara itu, bila diklasifikasikan berdasarkan usia, pinjaman macet perorangan dikontribusikan terbesar dari peminjam berusia 19-34 tahun dengan nominal pinjaman macet sebesar Rp779,73 miliar. [] Harli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here