Pamong Institute – Mengkritik kebijakan yang membuka izin tambang di kawasan wisata unggulan Raja Ampat, Direktur Pamong Institute Wahyudi Al Maroky berujar, harusnya lebih diperindah lagi.
“Harusnya diperindah lagi dengan penataan yang lebih bagus. Ditambah sarana-sarana wisata, sehingga ditata lebih rapi lagi dan lebih indah lagi, Bukan malah ditambang,” ujarnya dalam program Bincang Persoalan Negeri: Tambang Raja Ampat Buat Rakyat atau Pejabat? di kanal YouTube Bincang Bersama Sahabat Wahyu, Jumat (13/6/2025).
Mengenang masa tugasnya di Papua pada tahun 1995-1996, ketika terlibat dalam program Inpres Desa Tertinggal (IDT), Wahyudi memberikan kesaksiaannya bahwa Raja Ampat memang begitu indah.
“Raja Ampat ini saya itu pertama kali tugas di Sorong. Jadi saya dulu keliling-keliling di Raja Ampat itu ketika tahun 1995–1996, itu kami sering turun ke desa-desa karena waktu itu ada program Impres Desa Tertinggal (IDT). Kita ke kecamatan-kecamatan di Papua dan biasanya kita naik kapal atau perahu kecil speed boat. Nah, Raja Ampat tuh begitu indahnya gitu sangat indah,” ungkapnya.
Ia mengatakan, mungkin karena memang sangat indah, maka di dunia ada yang menyebut Raja Ampat sebagai “kepingan surga yang jatuh ke bumi”.
Namun, Wahyudi menilai, keindahan itu kini terancam oleh aktivitas pertambangan. “Keindahan itu sangat tergantung siapa yang memandang. Nah, bagi para pengusaha tambang, bagi para pejabat yang punya kepentingan, mungkin keindahannya bukan karena pemandangannya, tapi keindahannya karena memang keuntungannya,” sindirnya.
“Kalau tambang itu dieksplorasi, yang awalnya ada pepohonan kemudian jadi gundul, kemudian kelihatan kolam-kolam, bagi orang tertentu mungkin itu yang indah. Itulah keindahan yang mungkin dibayangkan oleh mereka untuk menghasilkan cuan. Itu juga salah satu keindahan bagi mereka,” sesalnya.
Soal Bahaya
Selain itu, Wahyudi lanjut mengingatkan, mengenai dampak pertambangan sebenarnya bukan hanya soal perbedaan persepsi keindahan, tetapi juga soal mengandung potensi bahaya.
“Perlu ada pandangan yang menyamakan bahwa sebenarnya bukan persoalan keindahan saja, ada persoalan bahaya. Bahayanya ada bahaya kerusakan lingkungan yang kemudian akan mendapatkan banjir, dan lain sebagainya,” tegasnya.
Bahkan tak hanya itu, Wahyudi juga mengingatkan akan adanya dampak spiritual. Yaitu bahaya yang agak jauh lagi, kategori di dalam keimanan sampai akhirat.
“Jadi orang yang merusak lingkungan itu bukan hanya membahayakan kita di dunia, menimbulkan bencana sebagai hukuman seperti banjir, longsor, atau mungkin kekeringan. Tetapi, juga akan menimbulkan dampak bencana di akhirat bagi mereka yang melakukan kerusakan di muka bumi,” jelasnya.
Berkaitan hal itu, ia mengutip ayat tentang fasad (kerusakan) yang artinya, “Telah nampak kerusakan di muka bumi akibat ulah tangan-tangan manusia.”
Lebih lanjut, Wahyudi mengemukakan bahwa dampak kerusakan lingkungan tergantung pada level pelaku kebijakan.
“Kalau yang merusak itu hanya selevel RT, tentu satu RT itu mungkin yang rusak. Tapi kalau dia levelnya kabupaten, mungkin satu kabupaten berdampak rusak. Tapi kalau levelnya negara, nah itu bisa merusak banyak hal.”, ujarnya.
“Saya pikir Pak RT enggak mungkin bisa mengeluarkan izin tambang. Kalau Pak RW juga enggak mungkin. Oleh karenanya saya pikir izin tambang ini dikeluarkan adalah level-level pejabat tinggi, level pejabat yang besar. Oleh karenanya kalau kita melihat siapa sih yang paling bertanggung jawab atas pengelolaan kerusakan ini, tentu para pejabat yang levelnya lebih tinggi, bukan,” tambahnya.
Ia pun menyayangkan arah kebijakan pembangunan yang justru menyasar wilayah wisata untuk ditambang.
“Mestinya daerah yang jadi pengembangan itu supaya tambah indah dikelola dengan baik sehingga jadi obyek wisata yang lebih indah.
“Mestinya itu bukan malah ditambang. Itu saya pikir yang menjadi persoalan serius, karena kebijakan pemerintah yang mengeluarkan izin tambang di daerah yang sebenarnya daerah indah dan daerah wisata yang mestinya kebijakannya itu diarahkan untuk mengembangkan daerah wisata, menata daerah itu menjadi tambah indah, tambah enak dilihat, tambah nyaman dinikmati,” pungkas Wahyudi. [] Harli






















Sayang seribu sayang. Kekayaan alam indinesia malah hanya jadi bahan jarahan. Tidak ada yg bicara kesejahteraan rakyat kecuali hanya utk cap dan retorika belaka. Atas nama rakyat keruk alam. Alasan demi kemakmuran rakyat beri ijin konsesi. Tp rakyatnya tetap dilupakan dan….termiskinkan.
Sedih dan janggal sistem yg aturannya model begini