Direktur Pamong Institute Wahyudi Al-Maroky menilai dunia internasional belum serius menyoroti pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di Gaza, Palestina.

“Sekarang coba kita lihat, begitu banyak pembantaian dan genosida terjadi. Kapan tindakan Israel itu benar-benar dianggap sebagai pelanggaran HAM? Nyatanya hampir tidak pernah,” tuturnya dalam Podcast Spesial Ramadhan bertajuk Ramadhan di Tengah Sistem Sekuler, di kanal YouTube Dakwah Tangsel, Senin (2/3/2026).

Wahyudi lanjut menyatakan, peristiwa tersebut seharusnya dipandang sebagai kejahatan perang. Dan menurutnya, dukungan Amerika Serikat (AS) terhadap Israel juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika konflik tersebut.

“Padahal jelas, itu merupakan kejahatan perang. Bahkan kita juga melihat bahwa pendukung utama Israel adalah Amerika Serikat, Donald Trump, pernah menculik Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, tetapi tidak ada yang menganggapnya sebagai pelanggaran HAM,” bebernya.

Ramadhan di Gaza

Selain menyoroti isu HAM, Wahyudi juga membandingkan kondisi Ramadhan yang dijalani warga Gaza dengan umat Muslim di Indonesia. Perbedaan situasi tersebut, ungkapnya, sangat mencolok karena pendudukan Israel yang masih berlangsung.

“Jika kita membandingkan Ramadhan di Gaza dengan di Indonesia tentu perbedaannya sangat jauh. Di Gaza orang dibangunkan untuk sahur dengan suara bom. Di sini kita dibangunkan dengan rebana atau petasan, tetapi di sana yang terdengar adalah ledakan sungguhan,” bebernya.

Ia menambahkan, masyarakat Indonesia masih dapat menjalani Ramadahn dengan relatif nyaman. Sementara di Gaza, kondisi keamanan menjadi ancaman utama bagi warga.

“Di sini kita masih bisa berbuka dengan nyaman, bahkan bisa melakukan safari Ramadhan. Sementara di sana, jika seseorang masih bisa selamat saja itu sudah sangat baik,” bandingnya.

Wahyudi juga menyinggung kondisi kemanusiaan yang berat di Gaza. Walaupun di Indonesia juga ada masyarakat yang mengalami kesulitan akibat bencana Sumatera.

“Saya baru pulang dari Aceh, dan di sana masih terlihat rumah-rumah yang belum diperbaiki, jembatan yang rusak, serta sawah yang berubah menjadi tumpukan kayu dan lumpur. Itu juga merupakan penderitaan,” sebutnya.

Namun ia menilai, situasi di Gaza jauh lebih parah, terutama karena ancaman terhadap keselamatan jiwa serta kurangnya perhatian dunia internasional.

“Namun jika dibandingkan dengan Gaza, terutama dari sisi ancaman nyawa, tentu Gaza jauh lebih berat. Ironisnya, mata dunia seolah tidak melihat ke sana. Bahkan bukan hanya tidak peduli, tetapi juga terlihat ada kemunafikan dalam memandang persoalan Gaza,” katanya.

Menurutnya, bulan Ramadan seharusnya menjadi momentum spiritual bagi umat Islam. Namun bagi warga Gaza, kondisi konflik membuat mereka menjalani puasa dalam keterbatasan.

“Jika kita berpuasa sekitar 14 jam, di sana ada yang berhari-hari tidak mendapatkan makanan dan minuman. Bahkan sebelum Ramadhan pun warga Palestina khususnya di Gaza sudah menghadapi berbagai musibah. Banyak yang terpaksa menahan lapar karena memang tidak ada makanan,” ujarnya.

“Bahkan ada yang sampai harus mengganjal perut dengan rumput. Ini menunjukkan bahwa pasokan makanan sangat minim. Orang sakit pun sulit mendapatkan obat-obatan. Jadi penderitaan mereka sangat berat, dan di bulan puasa ini mereka menjalani Ramadhan dalam kondisi yang sangat sulit.”

Kondisi kemanusiaan di Gaza dilaporkan masih memprihatinkan. Konflik yang berlangsung sejak 2023 telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan menyebabkan sebagian besar penduduk kehilangan tempat tinggal serta mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. [] Harli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here