Pamong Institute – Pilkada di DKI Jakarta, partisipasi mencapai 4.724.393 suara dari DPT 8.214.007, dengan golput sebesar 42,47% atau 3.489.614 orang. Partisipasi pemilih hanya mencapai 58%, pernyataan itu disampaikan Ketua KPU DKI Jakarta Wahyu Dinata :
“Kami tadi sudah menghitung dari data yang ada, tingkat partisipasi di DKI Jakarta itu sekitar 58 persen,” kata Wahyu di Kantor KPU DKI Jakarta, Jumat (6/12/2024).
Menurut analisis para pakar, tingginya angka golput di Pilkada Jakarta 2024 disebabkan oleh beberapa faktor utama.
Menurut Titi Anggraini, sebagai Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia, penyebab Golput yang tinggi di jakarta yaitu para calon yang bersaing di Pilkada Jakarta.
“Kurang sejalan dengan aspirasi politik warga dan elite lokal. Figur yang disukai justru tidak mendapatkan tiket politik, misalnya Ahok dan Anies Baswedan,“ katanya kepada BBC News Indonesia Jumat (29/11).
Peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Annisa Kirana, menilai tingginya angka golput karena ketidakpercayaan terhadap sistem politik.
“Banyak warga merasa bahwa siapa pun yang terpilih tidak akan membawa perubahan berarti, sehingga memilih menjadi tidak relevan,” ujarnya kepada Parboaboa, Rabu (4/12/2024), yang dikutip oleh rumahpemilu.
Haykal mengatakan bahwa Golput bentuk kekecewaan rakyat.
“Golput itu bentuk kekecewaan, tapi juga alarm. Kalau dibiarkan, demokrasi kita makin rapuh,” ujar Haykal, peneliti dari Perludem.
Adjie berpendapat bahwa korupsi pemerintah, hidup mewahnya pejabat dan polarisasi Politik yang membuat rakyat apatisme.
“Isu polarisasi politik, korupsi di pemerintahan, kemewahan hidup sebagian pejabat negara, membuat apatisme politik meninggi,”
kata Adjie dalam rilis survei LSI Denny JA secara daring, Rabu (4/12/2024). | Jeki





















