Direktur Pamong Institute Wahyudi Al-Maroky menekankan, kasus Kepala SMAN 1 Cimarga yang menampar siswanya karena merokok hingga sempat dinonaktifkan oleh pemerintah daerah harus dijadikan pelajaran penting bagi dunia pendidikan nasional, bukan justru ajang saling menyalahkan.

“Jadikan pelajaran sungguh-sungguh. Perbaiki semua, baik dari lingkungan pemerintahan, lingkungan sekolahnya, guru-guru, sarana, lingkungan masyarakat dan juga lingkungan orang tua,” tuturnya kepada pamonginstitute.com, Sabtu (25/10/2025).

Wahyudi menjelaskan bahwa pendidikan memang tidak bisa dijalankan oleh satu pihak saja. “Pendidikan itu simultan. Negara punya kewajiban mencerdaskan, bukan hanya kecerdasan keilmuan tapi juga kecerdasan spiritual, emosional, dan fisikal,” jelasnya.

Ia menilai, tindakan pemerintah daerah yang sempat menonaktifkan Kepala SMAN 1 Cimarga yang menampar muridnya karena merokok di lingkungan sekolah merupakan langkah yang tergesa-gesa dan dapat dinilai sebagai tindakan yang tidak berpihak kepada dunia pendidikan. “Mestinya harus terukur kebijakan itu. Ini menurut saya perlu juga diperbaiki,” nilainya.

Semestinya, menurut Wahyudi, levelnya diprotes saja apa yang harus diluruskan. Tidak perlu sampai dilaporkan dan dituntut sampai ke pihak kepolisian.

Ia juga mengkritik pejabat daerah yang menemui siswa yang merokok di lingkungan sekolah tersebut, karena telah melanggar kedisiplinan. “Mestinya pejabat daerah bisa memahami ini, dia tidak layak ditemui. Seorang pelanggar yang melanggar malah ditemui pejabat. Mestinya tidak ditemui. Di level proses pendidikan saja, level guru (di sekolah) saja disuruh selesaikan itu,” kritiknya.

Pendidikan Tetap Perlu Ketegasan

Wahyudi menyatakan bahwa pendidikan tetap memerlukan ketegasan. “Mendidik orang itu perlu ketegasan. Tidak mungkin seseorang itu dididik menghasilkan hasil yang baik kalau tidak dilakukan dengan tegas dan tega,” katanya.

Menurutnya, perubahan zaman dan teknologi tidak boleh mentolerir atau menghapus nilai dasar pendidikan seperti disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab.

“Zaman boleh berubah, teknologi boleh meningkat, budaya dan adab boleh bertambah, tetapi yang paling penting adalah nilai-nilai kedisiplinan maupun nilai-nilai kejujuran, maupun nilai-nilai tanggung jawab itu harus tetap ada pada diri pendidik maupun pada diri yang dididik,” ujarnya.

Akan tetapi, Wahyudi mengingatkan, bentuk sanksi bagi siswa harus memberikan nilai tambah, bukan menimbulkan trauma. “Hukuman yang terbaik bagi anak didik adalah melejitkan kemampuan dan potensi yang ada dalam diri anak itu,” ujarnya.

Bentuk hukuman, sebutnya, bisa berupa aktivitas yang meningkatkan kemampuan anak. “Kalau diberi hukuman untuk mencatat, menulis, meresum, membuat makalah, atau menambah latihan olahraga itu bisa menjadi hukuman yang melejitkan kemampuan” jelasnya.

Ia menegaskan, orientasi hukuman harus murni mendidik. “Tidak boleh menghukum karena niatnya dendam atau emosi atau ingin merusak, tetapi justru motifnya mendidik,” pesannya.

Menurutnya, ketegasan dan nilai moral harus kembali menjadi ruh pendidikan nasional. “Agar sekolah tidak kehilangan wibawa dan generasi muda tidak kehilangan arah,” tandasnya

Pendidikan Butuh Sinergi

Kasus SMAN 1 Cimarga, kata Wahyudi, mencerminkan perlunya sinergi antara guru, orang tua, masyarakat, dan negara dalam membentuk karakter bangsa.

Sebab, ia menerangkan, pendidikan sejati bukan sekadar mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk moral dan tanggung jawab sosial. “Negara ini rusak karena banyak orang cerdas akalnya, tapi moralnya buruk, imannya buruk, ketakwaannya rendah,” pungkasnya. [] Harli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here