Pamong Institute – Direktur Pamong Institute, Wahyudi al-Maroky menjelaskan pentingnya mensyukuri nikmat sumber daya alam (SDA) tambang dengan syukur yang sebenar-benarnya.
Hal itu ia sampaikan dalam “Kajian Senin Ba’da Zhuhur” pada 24 Februari 2025, di Masjid Al Ikhlas, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Ditjen Migas), Kuningan, Jakarta Selatan yang juga disiarkan melalui kanal YouTube DKM Masjid Al Ikhlas Ditjen Migas.
“Kita tidak dilahirkan dengan membawa tambang. Bahkan leluhur kita pun tidak pernah membuat barang tambang. Ada dengan sendirinya diciptakan dan disediakan oleh Allah SWT. Maka, penting bagi kita supaya bersyukur atas nikmat Allah tersebut agar bisa bertambah nikmat dan tidak mendatangkan azab (siksa hukuman dari Allah SWT),” ujar Wahyudi menjabarkan.
Sebab, Wahyudi lanjut menjelaskan bahwa Allah SWT telah memberikan ‘warning’ (peringatan) dan sekaligus janji kepada manusia di dalam Al-Qur’an, Surah Ibrahim ayat yang ke-7.
“Sesungguhnya jika kamu (kalian) bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” kutipnya.
Maka terkait dengan urusan tambang sebagai nikmat Allah yang luar biasa ini, menurut Wahyudi, perlu juga harus kita syukuri.
Tiga Cara Mensyukuri Nikmat Tambang
Wahyudi lantas menjelaskan bahwa ada tiga level cara mensyukuri nikmat tambang. Mulai dari level hati (kalbu) atau perasaan, kemudian lisan dan amal.
Pertama, cara bersyukur dalam hati, sebutnya, kita harus merasa ridha dan senang atas segala keputusan Allah. Tidak semua daerah atau semua negeri ada, hanya daerah-daerah tertentu saja yang ada. Jadi, kalau kita tidak dikasih tambang emas di Jakarta kita tetap bersyukur karena masih ada nikmat yang lainnya.
“Tidak boleh kita kufuri atau tidak bersyukur atas nikmat Allah (yang mungkin kita kira) sedikit, karena nikmat Allah itu sesungguhnya sangat begitu banyak,” ulasnya.
Kedua, lanjut Wahyudi, wujud syukur dengan lisan atau ucapan. Yaitu dengan cara mengucapkan ‘alhamdulillah’ (segala puji bagi Allah).
“Jadi, tidak boleh memuji-muji yang lain. Kebanyakan kita kan suka sekali memuji-muji kawan, muji-muji pemimpin, dan yang lain-lain,” ungkapnya.
Menurutnya, yang layak untuk dipuja dan dipuji itu adalah Allah SWT. Walaupun manusia diberikan kecenderungan memuja sesuatu, tetapi Islam mengarahkan agar memuja-muji itu kepada Allah SWT.
“Mungkin bagi orang yang tidak paham Islam, memuja kepada siapa saja. Ada yang memuja kepada artis, pemain bola, ada juga kepada benda-benda. Itu karena tidak paham Islam,” tegasnya.
Ketiga, wujud syukur level amal. Wahyudi menerangkan yaitu terkait dengan ketundukan terhadap bagaimana Islam (Allah dan Rasul-Nya) mengatur tambang, siapa yang berkewajiban mengelola tambang, serta untuk siapa dan untuk apa hasil tambang itu dimanfaatkan.
Ia pun menjelaskan bahwa di dalam Islam berlandaskan sunnah atau hadits Nabi SAW, barang-barang tambang yang jumlahnya besar itu adalah milik umum (masyarakat) yang wajib dikelola negara dan manfaat peruntukannya untuk bebagai kemaslahatan seluruh masyarakat, lebih khusus lagi bagi kaum muslimin, yaitu hasilnya dimanfaatkan untuk ketaatan kepada Allah SWT.
“Oleh karenanya, kita harus hati-hati dalam konteks mengelola urusaan tambang ini,” pungkasnya. [] Harli





















